Sampah Ilmiah
Sunday, September 30, 2018
Kualitas Pendidikan Indonesia Menurun? benarkah???
Assalamu'alaikum
Hai semua,
semoga Anda semua selalu mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT, semoga kebahagiaan dan keberkahan hidup selalu mengiringi hidup anda.
kali ini saya akan mengupas sedikit tentang kondisi pendidikan di Indonesia tercinta kita ini.
apakah benar kualitas pendidikan di Indonesia semakin hari semakin menurun???
benarkah demikian???
jika benar, lantas apa yang menjadi penyebabnya???
nah, itu dia yang penting... yaitu memunculkan sebuah solusi atas permasalahan yang sedang terjadi di dunia pendidikan Indonesia tercinta ini.
nah, untuk mencari tahu jawaban dari permasalahan tersebut, silahkan sobat semua cek masing-masing link berikut ini,
caranya :
klik link
tunggu 5 detik (jika lihat di hape android, jangan lupa klik "deny", atau batalkan jika ada yang mencoba instal apk)
lalu klik skip ad
1. Klik disini untuk membaca tentang aturan jumlah siswa dalam satu kelas
2. Klik disini untuk membaca tentang usia minimal mulai sekolah
3. Klik disini untuk membaca tentang fasilitas kelas dalam proses belajar mengajar
4. Klik disini untuk membaca tentang Gaji Guru
5. Klik disini untuk membaca tentang profesionalisme guru
6. Klik disini untuk membaca tentang kualitas guru di Indonesia
7. Klik disini untuk membaca tentang peran orang tua terhadap pendidikan anaknya
8. Klik disini untuk membaca tentang pengaruh lingkungan terhadap pendidikan
selamat membaca
semoga pengetahuan anda semua semakin bertambah
semoga mendapatkan ilmu yang berkah
Sunday, September 23, 2018
8 Kesalahan Guru Ketika Mengajar Dan Solusinya
8 Kesalahan Guru Ketika Mengajar
Dan Solusinya
Sejatinya,
kegagalan teman-teman pendidik dalam mengajar di kelas disebabkan karena
kesalahan mendasar yang tidak disadari, bahkan masih banyak diantara kita yang
menganggap hal yang telah dilakukan merupakan sesuatu yang biasa. Padahal
sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh teman-teman pendidik, khususnya
dalam pembelajaran, akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik.
Setuju?
Teman-teman
pendidik harus mampu mengendalikan diri dan memahami kondisi agar terhindar
dari kesalahan-kesalahan ketika mengajar di kelas. Kita hanyalah manusia biasa,
yang tidak luput dari kelemahan dan kesalahan ketika berada di depan peserta
didik. Namun, bukan berarti kesalahan teman-teman pendidik harus dibiarkan dan
tidak ada jalan keluarnya.
"SETIAP
GURU TENTU MEMILIKI POTENSI UNTUK BERHASIL MENJALANKAN TUGASNYA SEBAGAI AGEN
PEMBELAJARAN YANG HANDAL. KEBERHASILAN GURU INI SECARA NYATA DAPAT DILIHAT DARI
KEBERHASILAN PESERTA DIDIK KETIKA MENGIKUTI PROSES DAN MENCAPAI TUJUAN
PEMBELAJARAN".
Berikut
ini adalah delapan kesalahan guru ketika mengajar yang mengakibatkan kegagalan
peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Kesalahan-kesalahan
tersebut diantaranya:
1. Tidak Ada Persiapan Ketika
Mengajar
Adakah
diantara teman-teman pendidik yang merasa mengajar dengan baik di kelas
walaupun tanpa persiapan sama sekali? Tentu tidak. Seharusnya, teman-teman
pendidik selalu mempersiapkan segala hal sebelum mengajar, mulai dari RPP
(Rencana Persiapan Pengajaran), perangkat atau media pembelajaran., sampai
bahan-bahan evaluasi materi. Teman-teman pendidik harus selalu ingat bahwa
mengajar tampa persiapan merupakan tindakan yang dapat merugikan perkembangan
siswa.
Tentu
solusinya adalah buatlah persiapan yang matang sebelum teman-teman pendidik
mengajar di kelas. Seorang guru dalam merancang pembelajaran juga harus semakin
terampil dalam mengelola kelas sesuai dengan karakteristik peserta didik untuk
mencapai akhir dari tujuan materi yang diajarkan. Ingatlah bahwa dalam proses
pembelajaran, tidak ada pembelajaran yang berhasil tanpa persiapan yang benar.
Tipsnya,
teman-teman pendidik dapat merancang kegiatan pembelajaran keseluruhan
secara weekly ketika teman-teman sedang tidak mengajar (hari minggu).
Semoga tidak merepotkan ya! Nah, caranya adalah membuat perancangan yang sangat
mudah, yaitu membuat RPP hanya satu halaman saja. RPP satu halaman saja semacam
RPP untuk diri kita sendiri yang terdiri dari tujuan pembelajaran, apersepsi,
rancangan evaluasi, media yang digunakan, alur pembelajaran, dan inspirasi yang
dibagikan. RPP satu halaman sangatlah simple dan semoga saja sangat
membantu teman-teman pendidik mempersiapkan diri sebelum mengajar di kelas.
Yuk,
jadikan kegiatan perancangan secara weekly sebagai suatu sistem yang
jika tidak dikerjakan akan sangat mengganggu komponen lainnya dari keseluruhan
sistem pembelajaran. Penulis sudah mencobanya, dan perancangan pembelajaran
secara weeklysangat membantu sekali lho. Semoga teman-teman pendidik
selalu istiqomah ya!
2. Mamaksa Peserta Didik Harus Bisa
Memahami Materi yang Kita Ajarkan
“Saya
sudah bersungguh-sungguh mengajari siswa itu, tapi ketika ulangan sudah
dibagikan hasilnya sangat mengecewakan!”
“Siswa
ini sudah dijelaskan berkali-kali tapi tetap saja tidak mengerti!”
Pernahkah
teman-teman pendidik mengeluhkan seperti itu?
Sejujurnya,
penulis pernah mengeluh seperti itu. Penulis pernah berpikir egosentris
terhadap peserta didik yang tidak paham materi yang diajarkan. Dan saat itu,
rasanya jengkel sekali. Rasa kejengkelan itu dapat berimbas kepada peserta
didik lainnya lho. Target materi menjadi tidak tercapai karena keegoisan guru
untuk membuat satu atau dua peserta didik tersebut harus paham materi yang
diajarkan. Tentu ini kesalahan paling mendasar tetapi kurang disadari oleh
kita. Adakah diantara teman-teman pendidik mengalami hal yang sama dengan
penulis?
Diantara
teman-teman pendidik mungkin pernah memaksa peserta didik untuk benar-benar
paham dengan materi yang kita ajarkan, padahal memori peserta didik tidak
terlalu besar untuk menampung semua materi pelajaran. Dan sejujurnya, kita pun
memiliki keterbatasan dalam menguasai pelajaran yang kita ajarkan. Nah,
bagaimana mungkin kita memaksa peserta didik untuk menguasai setiap mata
pelajaran? Perlu teman-teman pendidik ketahui, tentu setiap peserta didik
memiliki perbedaan karakteristik tentang gaya belajarnya. Nah, kita tidak bisa
memaksa gaya mengajar guru harus acceptable bagi peserta didik.
Ingatlah
bahwa setiap peserta didik memiliki keahlian yang berbeda-beda dalam menguasai
pelajaran. Untuk itu, teman-teman pendidik sangat perlu memberikan motivasi dan
inspirasi kepada para peserta didik untuk memperdalam pelajaran yang dikuasai
dan disukai. Jika kita memaksa, kemungkinan besar kemampuan peserta didik hanya
berada di tengah-tengah tanpa keahlian pasti. Amanah kita sebagai pendidik
adalah mendidik mereka untuk menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan
negara.
3. Merasa Diri Paling Pandai Saat
di Kelas
Kalau
boleh jujur, adakah diantara teman-teman pendidik yang pernah merasa paling
pandai ketika mengajar di kelas? Atau, adakah diantara teman-teman pendidik
yang menganggap peserta didik adalah sebuah “tong kosong” yang harus diisi
dengan sesuatu yang sangat penting?
Terutama
peserta didik di kota-kota besar, tentu mereka dengan sangat mudah menikmati
internet dan berlangganan koran atau majalah. Tak dapat dipungkiri media
pembelajaran saat ini sangatlah luas dan up to date. Jika teman-teman
pendidik tidak meng-upgrade diri terus menerus, bukan tidak mungkin jika
peserta didik kita lebih pandai daripada gurunya. Dan bahkan kita bisa belajar
dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan.
Namun
apa yang terjadi jika peserta didik bertanya tentang sesuatu hal yang belum
kita ketahui? Maka akui sajalah bahwa kita belum mengetahui jawaban yang
ditanyakan. Tapi teman-teman pendidik harus berjanji untuk mencari tahunya, dan
menjelaskan kembali di pertemuan selanjutnya. Kuncinya adalah seorang guru pun
harus selalu belajar karena kita yang diamanahkan untuk membantu peserta didik
membuka gerbang inspirasinya.
Nah,
untuk mengatasi hal ini, teman-teman pendidik harus menjadi pembelajar yang
terus menyesuaikan ilmu pengetahuan dimiliki dengan perkembangan yang
terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, bahwa guru harus menjadi pembelajar
sepanjang hayat. Tipsnya adalah kita bisa menyusun jadwal rutin berapa buku
yang harus dibaca dalam satu hari atau satu minggu untuk menambah wawasan kita.
Selain itu, kita juga harus sering melakukan penelitian atau menulis sebuah
artikel agar kita bisa lebih banyak mengamati dan menganalisa kejadian-kejadian
di sekitar, serta rajin mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Yuk,
jadi pendidik hebat!
4. Tidak Peka dengan Perilaku
Peserta Didik yang Membanggakan Ketika Sedang Belajar
Dalam
pembelajaran di kelas, teman-teman pendidik berhadapan dengan sejumlah peserta
didik yang semuanya ingin diperhatikan. Mereka senang jika mendapat pujian dari
guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan. Betul? Namun, sayangnya
kebanyakan diantara kita sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta
didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik dan tidak
membuat masalah ketika sedang belajar di kelas.
Biasanya
guru lebih sering memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidur
di kelas, ataupun tidak memperhatikan pelajaran. Kondisi tersebut sering kali
mendapatkan tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka beranggapan bahwa
untuk mendapatkan perhatian dari guru, maka peserta didik harus berbuat salah,
burbuat gaduh, menganggu atau melakukan tindakan tidak disiplin lainnya.
Kita
perlu sekali belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukan oleh para
peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas perilaku tersebut dengan pujian
dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana. tetapi memerlukan upaya
sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku
positif peserta didik, baik secara kelompok maupun individual.
Disisi
lain, teman-teman pendidik juga harus memperhatikan perilaku-perilaku peserta
didik yang negatif dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut agar tidak
terulang kembali. Teman-teman pendidik bisa mencontohkan berbagai perilaku
peserta negatif, misalnya melalui ceritera dan ilustrasi, serta memberikan
pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negatif tersebut. Kita
juga sebaiknya menetapkan rules yang jelas dalam proses pembelajaran.
Agar suasana kelas menjadi kondusif dan peserta didik ikut belajar untuk
disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab terhadap proses pembejaran di kelas.
5. Mengabaikan Perbedaan
Peserta Didik
Setiap
peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan,
kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga,
latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam
aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Dalam hal ini,
teman-teman pendidik juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus
dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.
Dalam
proses pembelajaran, mungkin teman-teman pendidik pernah mengabaikan perbedaan
peserta didiknya di kelas. Hal ini dapat diterlihat dari penggunaan metode
pembelajaran yang kurang bervariasi. Anak didik yang kita hadapi, masing-masing
memiliki tingkat kemampuan dan kompetensi yang berbeda dalam menyerap pelajaran.
Oleh sebab itu, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi sangatlah
dianjurkan.
Aspek-aspek
peserta didik yang peru dipahami teman-teman pendidik antara lain, kemampuan,
potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, catatan
kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi tersebut
dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan sekolah, informasi dari
peserta didik lain (teman dekat), observasi langsung dalam situasi kelas, dan
dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik
itu sendiri melalui wawancara, percakapan, dan autobiografi.
Selain
itu, teman-teman pendidik dapat berkunjung ke rumah peserta didik yang sedang
membutuhkan perhatian terutama kepada peserta didik yang bermasalah di sekolah,
barangkali perlu diterapkan sehingga terjalin komunikasi terbuka, dan kita bisa
memahami karakteristik peserta didik tersebut. Penulis pernah melakukan
beberapa kunjungan ke rumah peserta didik, dan hasilnya adalah sangat mengubah
persepsi yang selama ini belum terpecahkan, selain itu inspirasi sangat terbuka
luas untuk mengatasi berbagai problem kependidikan di sekolah.
6. Memperlakukan Peserta Didik
Secara Tidak Adil
Pembelajaran
yang baik dan efektif adalah yang mampu memberi kemudahan belajar secara adil
dan merata (tidak diskriminatif), sehingga peserta didik dapat mengembangkan
potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran merupakan kewajiban guru
dan hak peserta didik untuk memperolehnya.
Dalam
praktiknya, mungkin banyak diantara teman-teman pendidik yang tidak adil,
sehingga merugikan perkembangan peserta didik, dan ini merupakan kesalahan yang
sering kita lakukan, terutama dalam penilaian peserta didik selama proses
pembelajaran. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian harus dilakukan
secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik.
Ketidakadilan
dalam proses pembelajaran akan memunculkan persaingan yang tidak sehat pada
peserta didik. Disisi lain, sebagian peserta didik mungkin bersemangat dalam
belajarnya, tetapi disisi lain pula ada peserta didik yang merasa tersisihkan.
Perhatian meyeluruh dan penuh rasa cinta pada setiap peserta didik harus selalu
ditumbuhkembangkan pada diri seorang guru untuk mengatasi ketidakadilan tersebut.
7. Tidak Sadar Memberikan Contoh
Tindakan Kurang Tepat Pada Peserta Didik
Teman-teman
pendidik merupakan contoh dan panutan bagi peserta didik. Tanpa disadari,
tindakan guru adalah doktrin yang melekat pada peserta didik. Perlu teman-teman
pendidik ketahui, peserta didik adalah penyontoh paling andal. Mereka mampu
menyontoh gaya guru menyampaikan materi dan bagaimana alur pikir guru dalam
memahami materi.
Untuk
itu, jangan pernah melakukan tindakan yang kurang tepat pada peserta didik,
seperti mengeluarkan kata keras dan kotor, menghina peserta didik di depan
kelas, memerintah pada sesuatu yang tidak dilakukan oleh kita sendiri, sering
terlambat masuk ke kelas, merokok, dan lain-lainnya. Wibawa kita sebagai
seorang guru akan hilang dimata peserta didik. Dan hal tersebut cukup
menyulitkan kita ketika mengajar di dalam kelas.
“YANG
PALING HEBAT BAGI SEORANG GURU ADALAH MENDIDIK, DAN REKREASI YANG PALING INDAH
ADALAH MENGAJAR. KETIKA MELIHAT MURID-MURID YANG MENJENGKELKAN DAN MELELAHKAN,
TERKADANG HATI TERUJI KESABARANNYA, NAMUN HADIRKANLAH GAMBARAN BAHWA DIANTARA
SATU DARI MEREKA KELAK AKAN MENARIK TANGAN KITA MENUJU SURGA”. –KH. MAIMUN
ZUBAIR
Ingatlah
bahwa kita sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia
gaji memang tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai
profesi mulia ini. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru
sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak di akhirat. Selamat
berjuang wahai para pahlawan ilmu! Semoga dari tanganmu akan lahir generasi
tangguh, berilmu, dan berakhlak yang mampu memimpin bangsa dan negara ini.
8. Menggunakan Destructive Disclipline
Akhir-akhir
ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik, bahkan
melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hokum,
melanggar tata tertib, melanggar norma agama, criminal, dan telah membawa
akibat yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dengan pembelajaran,
guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melakukan
tindakan disiplin Seperti alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki
rencana tindakan yang benar, maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu.
Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar
belakang kesalahan yang diperbuat, tidak jarang guru memberikan
hukuman diluar batas kewajaran pendidikan, dan banyak guru yang memberikan
hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.
Dalam
pada itu seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta
didik diluar kelas (PR), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan
peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik dan saran
untuk kemajuan peserta didik. Yang sering dialami peserta didik adalah guru
sering memberikan tugas , tetapi tidak pernah memberi umpan balik terhadap
tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan
penegakan disiplin yang destruktrif, yang sangat merugikan perkembangan peserta
didik. Bahkan tidak jarang tindakan destructive disclipline yang dilakukan oleh
guru menimbulkan kesalahan yang sangat fatal yang tidak hanya mengancam
perkembangan peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa
Timur pernah ada kasus seorang peserta didik mau membunuh gurunya dengan seutas
tali raffia, hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan merah pada
hasil ulangannya Kesalahan-kesalaha seperti yang diuraikan diatas dapat
mengakibatkan penegakan disiplin menjadi kurang efektif, dan merusak
kepribadian dan harga diri peserta didik. Agar guru tidak melakukan
kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu :
- Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang
- Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran
- Hindari menghina dan mengejek peserta didik
- Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat
- Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran
Friday, September 21, 2018
Pengaruh Genetik terhadap Prestasi Belajar Anak
Dulu pernah dikait-kaitkan bahwa bagaimana tingkat kecerdasan orang tua, maka akan berimbas pada tingkat kecerdasan sang anak. Benarkah demikian??? artikel berikut ini mungkin akan dapat sedikit menjawab pertanyaan itu:
klik title di bawah ini,
Pengaruh Genetik terhadap Prestasi Belajar Anak
tunggu 5 detik,
lalu klik tombol skip ad
sselamat membaca, dan selamat, pengetahuan anda bertambah
jangan lupa juga nonton video di bawah ini,
semoga bermanfaat
terima kasih sudah berkunjung
terima kasih sudah menonton
terima kasih telah subscribe ke channel YouTube Sathriani Mubarok
Produk Musik Bergizi | Jangan Marah
Monday, September 10, 2018
Mendidik Menjadi Manusia
Nelson Mandela berkata bahwa "Pendidikan adalah senjata paling pamungkas yang bisa digunakan untuk mengubah keadaan Dunia". Kalimat tersebut seakan memberikan penjelasan kepada kita betapa pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup secara beradab.
Faktanya, pendidikan bisa terjadi di mana pun saja, selama disitu ada pertanyaan maka di tempat itu pula lah pendidikan terjadi. Sederhananya bahwa seorang manusia mendapatkan pendidikan tidak hanya di sebuah tempat yang disebut sekolah. Namun, di sekolah lah pendidikan sangat bisa terjadi, antara sesama teman, antara guru dengan peserta didik, mau pun antar pendidik.
Berkenaan dengan pendidikan, dalam blog sampahilmiah ini, saya mencoba menyuguhkan berbagai informasi seputar pendidikan, semoga bermanfaat. Anda cukup klik judul-judul berikut ini untuk menuju halaman baru berisi informasi-informasi yang bisa menambah wawasan anda.
4. Anti Phobia
demikian informasi-informasi seputar pendidikan di atas saya persembahkan untuk anda, semoga bermanfaat. Blog sampahilmiah ini akan berusah mengupdate informasi-informasi bermanfaat. Silahkan tinggalkan komen pada kolom komen di bawah
Monday, July 17, 2017
Thursday, May 11, 2017
Belajar Guitar Gratis
Belajar Gitar Gratis
Belajar Gitar, Belajar Gitar Gratis, Permainan Gitar keren, Permainan Gitar hebat,
Belajar main gitar itu mudah, ... gampang banget, ...
gak perlu kursus, ...
cukup beli gitar, latihan chord, latihan senam jari, ........
beres.....
kamu bakal jadi pemain gitar handal...
cuman, inget,... semua itu butuh proses , semua itu butuh semangat pantang menyerah, berlatih dan berlatih....
yuk belajar gitar gratis....
Belajar Gitar, Belajar Gitar Gratis, Permainan Gitar keren, Permainan Gitar hebat,
Monday, May 1, 2017
Friday, April 28, 2017
Thursday, April 27, 2017
Monday, April 24, 2017
Sunday, April 16, 2017
Subscribe to:
Posts (Atom)





